Selasa, 15 Maret 2011

Ibu Pun Butuh Dicintai

Satu hal yang paling bisa membuat saya menangis hari ini—masa di mana saya sudah beranjak dewasa dan harus berpisah dengan keluarga—adalah saat saya teringat Ibu. Ingat akan wajah lembutnya, senyum manisnya, kelembutan tuturnya, dan segenap nasihatnya yang selalu mampu menjadi penentu setiap keputusan saya. Seolah ada reminder ajaib dari Ibu, sehingga setiap saya ingin berbuat sesuatu, selalu Ibu yang terbayang lebih dahulu.
Apakah yang akan saya lakukan disukai oleh Ibu atau apakah ini akan membuat Ibu kurang berkenan, selalu menjadi pertimbangan bagi saya. Pada lain kesempatan, jika saya memperoleh sesuatu yang menyenangkan, maka saya akan berkata, “Ini saya persembahkan untuk Ibu.”
Saya meyakini perasaan ini tidak hanya saya yang merasakannya. Setiap anak tentu tidak akan memungkiri betapa peran Ibu mempunya porsi terbesar dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Bagaimana tidak? Ruh seorang anak dititipkan Allah SWT melalui rahim Ibu. Sembilan bulan sepuluh hari ia berbagi makanan, cairan, dan suplemen tubuh lainnya dengan Ibu. Bahkan, setiap apa yang dikonsumsi ibu saat hamil, bias dipastikan adalah untuk janin rahimnya. Pada masa itu, banyak penderitaan yang dialami Ibu. Sulit makan di awal-awal kehamilan, membenci sesuatu yang paling disukai saat tidak hamil, sulit bergerak, belum lagi maturational crisis (krisis pada masa kehamilan) yang harus dialami.
Saat melahirkan sang bayi, ibu bahkan harus mempertaruhkan nyawanya. Tidak sedikit ibu yang meninggal saat melahirkan. Kemudian, dimulailah masa-masa radikal dalam kehidupan anak. Saat anak hanya mampu berkomunikasi dengan tangisan, oehan-ocehan yang mungkin hanya ibu yang memahaminya, gerakan tangan, tendangan kaki, dan genggaman jari. Begitu lambatnya pertumbuhan kita, namun begitu sabarnya Ibu mengurus kita. Makan melalui mulut, berbicara, berjalan, semuanya harus dipelajari. Bukankah ibu yang mempunyai peran terbesar dalam tahapan itu?
Kita tumbuh menjadi anak-anak yang lincah dan cenderung nakal, aktif dan selalu ingin bermain. Ibu dengan sabarnya menemani kita kendati harus letih mengejar kita, melompat, dan memanjta bersama kita. Ia dampingi tahapan-tahapan penting dalam pertumbuhan kita dengan senyum dan harapan indah akan masa depan cerah kita. Ibu tanamkan nilai akidah dan akhlak. Apa yang saat dewasa kita anggap benar, layak dan sesuai norma, bukankah kebanyakan merupakan apa yang ibu tanamkan ketika kita kecil?
Ibu adalah penentu terbesar dalam pembinaan akhlak dan citra diri seorang anak. Dialah yang bertanggung jawab mendidik dan membesarkan anaknya. Meskipun ada bantuan dari pihak suami, peranan dan tanggung jawab suami sebagai Pembina keluarga, mencari nafkah, dan sebagainya, memberikan implikasi bahwa sebagian besar pembentukan diri anak-anak tertumpu pada bahu si ibu.
Ketika kita sakit, ibu adalah orang yang paling panic. Saat kita nakal, ibu adalah orang yang paling sedih. Ketika kita berhasil, ibu adalah orang yangv paling bahagia. Yakinilah itu!
Saat kita beranjak remaja, masa yang penuh kelabilan dan gejolak muda menjadi aman dengan ibu di sisi kita. Ibu mampu menjadi teman cerita yang begitu setia. Ibu bias menjadi teman solusi dari persoalan rumit akibat keegoan dunia remaja kita.
Seorang ibu tidak akan pernah menuntut balas semua pemberiannya kepada anak-anaknya. Hanya, apakah kemudian anak-anak juga tidak menyadari peranan ibu tersebut?
Setelah dewasa, anak-anak mulai sibuk dengan dirinya sendiri. Berjuang sekuat tenaga untuk mengembangkan karier dan mengukir kesuksesan. Sementara itu, ada ibu yang beranjak tua dan mulai lemah.
Wahai kita, para Anak! Layakkah jika kemudian ibu kita tempatkan di Panti Wredda? Menghabiskan sisa-sisa kehidupan dan menanti mautnya dalam kesendirian? Membiarkan mimpi-mimpinya untuk melihat anaknya berhasil, menyaksikan, dan membersamainya, pupus dan harus terkikis habis dip anti jompo lantaran anak-anaknya sibuk dan tidak sempat mengurusnya. Setelah begitu panjang dan beratnya perjuangan ibu mengurus kita saat kecil dulu?

Sungguh… Ibu pun butuh cinta dari kta, anak-anaknya.
Wallahu a’lam …

2 komentar:

  1. jempoll lah buatmu........
    ah tersentuh hati saya.......thanks & slm kenal dr aku...
    check jg di http://antodjeone.blogspot.com/

    BalasHapus