Kamis, 16 Februari 2012

Impian Yang Tertunda

Sore yang mendung, medingan nulis cerpen adj. menyalurkan hobby dan melampiaskan ekspresi jiwa . . . karya quh dulu, cerpen yg belum sewmpat quh post' kan ,, lama tdx menulis d' blog . . .
Selamat membaca ,,,,,,


Impian Yang Tertunda
Sesosok gadis muncul dari pintu gerbang sekolah. Parasnya yang jelita merona karena panas yang begitu terik. Rambutnya yang hitam berkilauan tertimpa cahaya matahari, terurai menutupi punggungnya. Angin yang berhembus semilir melambai-lambaikan rambutnya. Celotehan anak-anak lain di sekitarnya diabaikannya. Ia nampak letih. Wajahnya pucat pasi. Tenggorokannya kering. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya di kejauhan.
Dios melambai kepada Regia, “Hey Regia, kemarilah!” ajak temannya yang ternyata adalah Dios. Dios adalah sahabat dekatnya. Cowok yang baik hati dan pecinta Kahlil Gibran sejati. Tubuhnya tinggi dan atletis. Ia mempunyai usaha kafetaria sederhana, tempat anak-anak sekolah biasa berkumpul. Ia sangat mandiri. Dan itulah yang membuat Regia dekat dengannya.
Regia balas melambai. Kemudian ia berlari menghampiri Dios. “Apa kabar, Dios?”
“Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bagaimana denganmu? Kau terlihat pucat sekali. Ayo, masuk ke dalam dan minum sebentar,” ajak Dios.
“Sorry Dios, aku tak bias. Ibuku sudah menungguku di rumah,” Regia menolak jakan Dios.
“Ayolah, hanya mijnum segelas Cola! Sedikit menyegarkan tenggorokan?” Dios tersenyum penuh semangat.
“Oke, tapi jangan memaksa ku untuk mendengarkan kau bersyair lagi,” Regia mengedip nakal pada Dios, berusaha untuk menggodanya.
“Baiklah, dasar anak bandel…!” Dios menggandeng Regia masuk ke dalam kafenya.
Tak lama kemudian, kafetaria mini itu penuh sesak. Mulai banyak pengunjung yang berdatangan. Regia masih tertawa lepas bersama Dios. Dios mulai berceloteh. Wajah Regia yang semula nampak pucat terlihat berseri-seri. Terkadang rona di wajahnya semakin memerah, kala Dios mulai menggodanya lagi.
Setelah satu jam berlalu, Regia melirik jam di tangannya. Sudah pukul dua siang. Ia harus segera plang.
Kemudian, karena Dios bersikeras untuk mengantar Regia pulang ke rumahnya, ia pun bersedia. Dengan mengendarai sepeda motor, dalam waktu kurang dari setengah jam mereka telah sampai di rumah Regia.
Rumah Regia tidak terlalu besar. Namun halamn rumahnya cukup luas dan nampak rapi. Di sepanjang halaman depan, berderet bunga-bunga dan tanaman hias yang tertata apik. Sebagian besar adalah bunga Camellia, bunga kesukaan Regia yang ditanam khusus oleh Mamanya.
Ternyata Regia telah ditunggu-tunggu oleh mamanya di teras rumah. Mama Regia tersenyum ramah. Regia mencium tangan mamanya, kemudian berbalik menghadap Dios.
“Trimz, Dios! Kau sudah berbaik hati mengantar ku pulang.”
“Sama-sama REgia,” kemudian menatap Mama Regia, “Apa kabar, Tante?”
“Baik, Dios. Maukah kau mampir sebentar?”
“Maaf Tante, Dios tidak bisa. Kafe sibuk, banyak sekali pengunjung hari ini,” jawab Dios.
“Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama. Mari Tante, REgia?” katanya seraya menyalakan mesin sepeda motornya. Kemudian Dios pun pulang menuju kafenya, dan Regia serta Mamanya masuk ke dalam rumah.

000---000

BRAK!!! Terdengar pukulan keras di meja makan disertai suara marah, “Cukup, Regia! Mama tak mau lagi mendengar protes kamu, mendengar penolakan kamu. Pokoknya kamu harus tetap mengikuti les balet itu!”
“Tapi, Ma, Regia tidak mau menjadi penari balet. Bahkan, karena begitu seringnya Regia mengikuti les balet, semua tugas Regia di sekolah keteteran. Tolong mengerti Regia, Ma…!” pinta Regia dengan suara memelas.
“Dengar, Regia. Mama mau kamu menjadi penari balet yang sukses. Bukan seorang pebisnis seperti…” tiba-tiba Mama Regia berhenti berbicara.
“Seperti siapa, Ma?” Regia melipat tangan di depan dadanya, memperhatikan reaksi Mamanya. Mama Regia tidak segera menjawab, ia terhanyut akan kenangan masa lalunya yang teramat pahit. Ia teringat akan Papa Regia, yang dulunya juga seorang pebisnis yang sangat sukses. Namun karena kesuksesannya itulah Papa Regia berubah. Ia tega meninggalkan anak dan istrinya, dan kemudian pergi bersama wanita lain. Kini Mama Regia harus berjuang keras demi menghidupi dirinya dan anaknya Regia
Regia mendekati Mamanya yang tengah melamun, kemudian seraya menyentuh tangan Mamanya dengan lembut ia berkata, “Ma.., Mama baik-baik saja?”
Mama Regia tersentak dari lamunannya, ia memandang anaknya dengan sorot mata tajam. Amat sangat berlawanan dengan ekspresi yang sebelumnya. “Ingat Regia, Mama msih tetap pada keputusan Mama. Dan Mama tidak mau mendengan alasan apapun dari kamu,” katanya. Ia mengangkat tangan ketika melihat Regia yang mulai berreaksi, “Dan satu hal lagi, Mama mohon demi Mama kamu harus berhasil!” sabdanya seraya meninggalkan Regia yang masih berdiri mematung di depan meja makan.

000---000

Malam begiru cerah. Rembulan tersenyum ramah, senyuman keajaiban yang menyinari sebagian hamparan permukaan bumi. Memberikan sinarnya pada orang-orang yang masih terjaga untuk melakukan kegiatan di malam hari, untuk tikus-tikus jalan, untuk kelelawar, dan untuk burung hantu yang mulai berkelana mencari mangsa. Suara jangkerik di luar sana menambah semarak dunia malam. Mereka bergembira menyambut datangnya sang malam. Namun tak begitu halnya dengan Regia. Gadis belia nan cantik jelita itutengah duduk termenung di depan jendela kamarnya.
Regia menatap langit, dengan gugusan bintang membentang. Bagi Regia, bintang-bintang itu menyorotkan sinyal, yang masing-masing sinyalnya memancarkan cahaya menentramkan. Baginya, menatap langit malam adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Dengan jutaan bintang yang berkerlap-kerlip, serta rembulan yang bersinar. Tiba-tiba terdengar dering HP di atasmeja belajarnya, Regia mengambil HPnya, kemudian membaca pesan yang muncul di layar HP, “Regia, besok hari Sabtu malam ada kompetisi ballerina dalam acara Ul-Tah sekolah. Harap kau berlatih untuk mengikuti kompetisi tersebut. Lavina.”
Regia mendesah, Lavina adalah guru balet di sekolahnya. “Sepertinya memang ini jalan hidupku,” pikirnya.

000---000


Regia terbangun pagi-pagi sekali. Ia keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan. Ternyata Mamanya sudah berangkat mengantarkan pesanan makanan, Mama Regia memiliki usaha Cattering yang lumayan berhasil, dari penghasilannya tersebut ia dapat mencukupi semua kebutuhan hidupnya. Regia
Regia menghampiri meja makan, ternyata Mamanya telah meninggalkan dua potong croissant yang masih hangat dan segelas susu. Ada pesan yang tertera di pintu lemari es. Regia membacanya deengan suara lirih, “Latihan balet di tempat biasa, jam tiga sore ini. Mama.”

000---000

Sepulang sekolah Regia singgah sebentar di kafetaria “Diosa CafĂ©” milik Dios. Masih ada dua jam lagi sebelum ia pergi ke tempat les baletnya. Regia memesan kentang goring dan segelas Cola dingin, lalu membayar dan membawanya ke meja pelanggan.
“Hey, Regia!” sapa seseorang yang ternyata adalah Dios.
“Halo, Dios!” jawab Regia berusaha untuk tersenyum. Regia menyesap minumannya.
“Kau punya masalah, Regia?” Tanya Dios seraya duduk di depan meja Regia.
“Tidak, tidak sama sekali. Bagiku ini bukan masalah,” jawab Regia tersenyum muram.
“Tak usah disembunyikan. Kau tidak pintar berakting,, hheeee…” kata Dios mencoba untuk mencairkan suasana.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Tanya Regia mengubah topik pembicaraan.
“Baik-baik saja ku rasa,” Dios memalingkan wajahnya dan melihat kafenya mulai penuh dengan pengunjung. “Bagaimana dengan baletmu?”
“Yeah..., cukup baik,” Regia kembali menunduk lesu.
Dios menatap Regia penasaran. Kedua alisnya bertautan, “Kedengarannya nyaris seperti penyesalan.”
“Pilihan seseorang dalam hidupnya tidak selalu merupakan pilihannya sendiri Dios.”
“itu omong kosong,” kilah Dios.
Regia terkekeh, “Menurutmu begitu?”
“Ya.” Dios melihat sekelilingnya dan melihat pengunjung yang mulai berceloteh dan kembali menatap Regia. “Kita hanya mempunyai satu kesempatan dalam hidup. Membiarkan orang lain mengendalikan diri kita, atas milik kita yang paling berharga, seperti pilihan hisup adalah sia-sia.”
“Menyia-nyiakan waktu?”
“Menyia-nyiakan hidup,” ralat Dios. Sekali Dios berbicara tentang topic semacam ini, ia tak bisa dihentikan. “Ayahku selalu berkata, ‘Hidup adalah berkah’.”
Hati Regia sedih saat mengenang Ayahnya. Ayah yang dulunya sangat menyayanginya. Yang entah mengapa pergi dan tak pernah kembali. Meskipun demikian, kasih saying Regia pada Ayahnya tetap abadi.
“Kau baik-baik saja Regia?” Tanya Dios membuyarkan lamunan Regia.
“Oh, ya…” jawab Regia seraya melihat jam tangannya. Waktu cepat sekali berlalu. Dalam waktu kurang dari satu jam ia harus tiba di tempat lesnya.
“Kurasa, aku harus segera pergi,” katanya member tahu Dios.
“Baiklah, ke tempat les balet?” Tanya Dios.
“Yep… tepat sekali!” Regia mengambil tasnya di sandaran kursi kemudian berbalik memunggungi Dios dan berjalan menjauhinya. Tiba-tiba Regia mendengar Dios berteriak memanggil namanya.
“Semoga berhasil Regia…!” Dios melambai.
“Trimz, Dios!” Regia balas melambai, kemudian masuk ke dalam angkutan umum.

000---000

Waktu demi waktu berlalu. Regia berhasil memenangkan kompetisi balet itu. Mamanya sangat gembira, karena bagi Mama Regia kemenangan yang diperoleh Regia membuka peluang untuk menjadikan Regia seorang ballerina yang sukses.
Regia sendiri merasa jengah, sebenarnya. Namun demi melihat Mamanya bahagia, ia tidak bisa menuruti keinginan hatinya untuk menjadi pebisnis yang gemilang.saat ini banyak sekali tawaran undangan pada Regia untuk tampil dalam berbagai pertunjukkan.
Pada suatu malam, Regia berhasil mempunyai waktu luang sebentar untuk istirahat. Karena malam itu ia sedang tidak ada job untuk pertunjukkan. Pada saat makan malam, Regia turun dari kamar untuk makan malam bersama Mamanya.
“Regia, Mama bahagia untukmu,” katanya seraya mengambilkan makanan untuk Regia.
“Terima kasih, Ma,” Regia berusaha untuk trsenyum.
Alis Mama Regia bertaut, bingung. Namun toh akhirnya ia sadar. “Baiklah, masalah itu kita bahas nanti saja. Sekarang cepat kamu selesaikan makan malammu!” katanya seraya menyuapkan makanannya sendiri.
Hamper setengah jam waktu berjalan. Sementara suasana bagitu hening, dan tegang. Kemudian setelah melihat Regia telah selesai makan, Mama Regia langsung membuka topic percakapan.
“Regia, bagaimana dengan perkembangan karier baletmu?”
“Yeah, seperti yang Mama ketahui, semua berjalan baik-baik saja,” jawab Regia acuh tak acuh.
“Mama sungguh bahagia karena impianmu kini telah tercapai.”
“Maaf Ma, bukan impian Regia, tapi impian dan obsesi Mama,” ujar Regia ketus. Ia sudah tak tahan menanggapi sikap egois Mamanya yang sama sekali tidak memikirkan perasaannya.
“Apa maksudmu Regia?” Tanya Mama Regia. Kilatan pada sorot mata Mamanya berubah berapi-api, seakan dapat membakar Regia di tempat duduknya.
Regia bergeming, kemudian Mama Regia berjalan menuju Regia dan menariknya berdiri, berhadapan dengannya. “Apa maksudmu Regia?” ulangnya dengan nada yang dibuat putus-putus dan tegas.
“Maksud Regia,” Regia berhenti untuk membasahi bibirnya yang kering, karena tiba-tiba tenggorokkannya tercekat. Kemudian melanjutkan, “Regia tak peduli dengan kesuksesan ini, Mama! Regia sudah mengorbankan seluruh hidup Regia untuk menuruti hati kecil Mama. Tapi Regia tak bisa berpura-pura kalau bagi Regia kesuksesan ini hanyalah rantai yang selalu membelenggu Regia untuk bisa hidup bebas. Sementara Mama menganggap ini adalah impian Regia. Padahal Mama tahu dengan pasti, kalau semua ini adalah impian dan obsesi Mama sendiri,” kata Regia setengah terisak menahan tangis. “Dan harus Mama tahu, Regia bukan barang yang dapat Mama pakai sesuka hati Mama…!” Regia tak mampu menutupi emosinya lagi, dan air matanya tumpah ruah membasahi wajahnya.
Otot di rahang Mama Regia tampak berjedut-kedut ketika ia mengerttakkan rahangnya. Tiba-tiba ia melepaskan Regia lalu meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi ke belakang. “Aku tak dapat terus menerus seperti ini,” ujar Regia muram.

000---000

Pada saat usia Regia mencapai 20 tahun di mana ia tengah berada di puncak kariernya. Beritanya selalu menjadi bahan utama di setiap majalah-majalah di bagian tentang seni. Tak ada seorang pun di negerinya yang tak mengenal nama REgia Vien Al Terryshia. Wajahnya bahkan kerap muncul di sampul halaman cover majalah ternama.
Namun tak ada seorang pun yang dapat mengerti perasaannya, maupun keinginan hatinya. Regia terlalu takut untuk berontak dari Mamanya. Karena Regia tahu hanya Mamalah yang ia miliki, dan hanya ia yang dimiliki Mamanya.
Dan pada suatu sore yang cerah, terdengan suara deruman suara mobil di depan rumah. Regia melihat melalui jendela kamarnya dan melihat Mamanya pulang dan memasuki rumah dengan membawa sebuah kotak besar dan beberapa brosur. Regia kembali mengempaskan tubuhnya di ranjang. Namun Regia kaget karena kemunculan Mamanya di dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Bagai disambar petir Regia langsung terduduk.
“Ada apa Ma?” Tanya Regia hati-hati.
“Akan ada kompetisi balet lagi, kamu menjadi tamu kehormatan dalam acara ini. Namun kompetisi kali ini berbeda, karena akan ada tantangan dalam kompetisi ini, dan mereka sangat berharap Kau dapat melewati rintangan tersebut. Jika kau berhasi Regia, kau akan mendapatkan penghargaan, bahkan rekor catatan sejarah,” jawab Mamanya, menunggu reaksi Regia meanggapi hal ini.
Namun tak ada secuil pun reaksi atau pun respon dari Regia. Dengan acuh tak acuh ia berkata sambil lalu, “Baiklah Ma, atur saja semuanya. Regia akan siap.”
“Tapi Regia, aka nada tantangan dalam kompetisi ini. Apakah kamu setuju?” Tanya Mama Regia seraya duduk di tepi ranjang Regia.
“Ya, apapun tantangannya nanti, Regia pastikan Regia akan siap melaksanakannya,” jawab Regia. Dan Regia juga siap mai kalau memang tantangan ini benar-benar berbahaya, tambahnya dalam hati.
“Baiklah, Mama akan jelaskan aturan mainnya padamu…”

000---000

Tepukan meriah membahana dari segenap penjuru penonton yang hadir. Tak disangka, pertunjukkan ini memang berbeda. Lain dari pada yang lain. Gedung seni itu penuh sesak oleh penonton yang berdatangan. Mulai dari kalangan biasa, artis, seniman, bahkan kritikus. Semua kritikus seni memang telah mengakui akan kehebatan dan keanggunan akan bakat tari ballerina yang dimiliki oleh Regia.
Dari dalam panggung Regia telah melihat bentuk tantangan itu. Memanjang horizontal di atas panggung teater. Laksana maut yang tersenyum ramah siap menyambutnya. Rehia tahu bahwa ini adalah tindakan yang bodoh sekali. Regia berfikir kembali bahwa ia seharusnya sudah meninggalkan tahap berani matinya jauh sebelum usianya genap 20 tahun.
Selang beberapa menit kemudian, namanya pun dipanggil. “Penonton yang berbahagia, mari kita sambut sang ballerina kita ‘Regia Vien Al Terryshia …!” tukassang MC antusias. Penonton pun memberikan tepukan yanh riuh.
Regia berjalan memasuki panggung teater dengan keanggunan dan kelincahan penari balet. Tubuhnya mungil, meskipun agak canggung. Sebelum melaksanakan tantangan itu ia menari dengan lemah gemulai mengitari panggung teate diiringi dengan music klasik permainan biola dan alat music ritmis lainnya. Sepatu baletnya berdecit bergesekan dengan lantai panggung yang dingin dan mengeras.
Kemudian, setelah saat yang telah ditentukan tiba, pandangan Regia mengacu pada kerangka besi yang terbentang di tengah-tengah panggung teater. Regia menghampirinya. Ia harus berhasil menyusuri kerangka itu hanya dengan menggunakan ujung sepatunya.
Regia terpana menyusuri pandangannya. Kemudian dilihatnya di depan panggung teater, Mamanya menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan ‘Regia kamu pasti bisa’. Penonton hening. Menunggu dan harap-harap cemas.
Kemudian, Regia mengerti. Dengan penuh percaya diri ia mulai mendaki tangga menuju puncak tantangannya berada. Tak ada cara lain lagi untuk menghindar dari apa yang ada di hadapannya saat ini. Ia berjalan dengan ujung kaki dalam balutan sepatu balet pada kerangka besi selebar 15 mili meter, dan memang inilah tantangannya. Tantangan yang penuh marabahaya, yang mungkin saja dapat merenggut nyawanya sendiri.
Perlahan dengan pasti Regia mulai melangkah. Dalam selang waktu 20 menit Regia telah setengah jalan melewati tantangan tersebut. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Kemudian, sesuatu yang buruk pun terjadi. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Regia terjatuh. Penonton mengerang. Tubuhnya sempat tertahan tali temali. Dan tak dinyana, tali itu hanya bisa menopang tubuhnya sebagian. Kakinya terjulur ke bawah. Tergores dan tertancap besi cukup dalam.
Pertolongan pun segera berdatangan. Mama Regia berteriak-teriak histeris. Dan mereka segera membawa Regia ke rmah sakit.

000---000

Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, Regia diperbolehkan oleh Dokter untuk pulang. Tak ada lagi secuil pun semangat yang terpampang di paras cantiknya. Sirna sudah semua. Kariernya pun hancur. Karena ia tak dapat menari lagi. Kakinya cacat akibat kecelakaan tragis malam itu. Di kakinya, Nampak luka parut yang memanjang dari paha hingga nyaris sampai lutut. Para dokter harus memasang plat di kakinya setelah kecelakaan itu. Dan kariernya harus berakhir sampai di situ.
Sebaliknya, Mama Regia kini berubah. Mungkin akibat kecelakaan itu ia mulai sadar dan menurunkan egonya. Tidak lagi memaksakan kehendaknya terhadap Regia. Ia memberikan kebebasan bagi Regia untuk memilih sendiri jalan hidupnya.
Namun bagi Regia, semua sudah tak ada artinya lagi. Bukan saja hanya kariernya yang hancur, tapi hidupnya juga hancur. Sampai pada suatu malam, Regia keluar rumah untuk mencari udara segar.
Regia meninggalkan rumah dan pergi menuju kafetaria di mana ada seseorang yang bisa mengerti akan perasaannya. Sesampainya di sana ia berdiri menatap kerumunan orang-orang, mendengar mereka tertawa dan memikirkan kekuatan yang tersembunyi di baliknya. Sesaat kemudian ia mulai mencari sahabatnya, dan ia melihatnya di sana, di ujung counter, dan melangkahkan kakinya ke sana.
Dios tersenyum melihat kedatangan Regia dan menyambutnya, menyalaminya dan mencarikan kursi tempat yang paling nyaman untuk mereka ngobrol. Dios sudah mendengar tentang kecelakaan yang telah menimpa Regia.
“Sudahlah Regia, tak usah kau berkecil hati. Kau masih bisa menggali keahlian lain yang dapat membangkitkanmu kembali dari keterpurukan ini,” katanya seraya meremas pergelangan tangan Regia dengan lembut.
“Ya, aku tahu. Aku sadar aku tak bisa terus menerus seperti ini… “ balas Regia.
“Aku punya beberapa kata yang akan ku katakana padamu.”
“Apa itu? Katakanlah Dios!” ujar Regia penasaran.
“Hidup, cinta, dan kecantikan adalah tiga inti dalam stau diri, bebas dan terikat. Hidup tanpa pemberontakan, ibarat musim-musim yang tak pernah bersemi. Dan pemberontakan tanpa kebenaran, seperti musim di padang pasir yang kering dan gersang,” Dios tersenyum menatap Regia.
“Hanya itu?” Tanya Regia.
“Belum, belum selesai. Kau masih mau mendengarkannya?”
“Ya, tentu saja. Tolong teruskan…!” pinta Regia.
Dios berdeham sebentar, kemudian melanjutkan, “Hidup, pemberontakan, dan kebenaran adalah tiga inti dalam satu diri, tak pernah pudar dan tak pernah sirna.” Dios berhenti. Ia menatap Regia dan melihat ada harapan muncul di sana. “Hidup tanpa kebebasan, ibarat tubuh tanpa ruh. Dan kebebasan tanpa pikiran, ibarat ruh yang terkutuk. Hidup, kebebasan, dan kebenaran adalah tiga inti dalam satu diri yang kekal. Yang tidak dapat hancur atau mati,” Dios mengakhirinya, sengaja menekankan kalimat terakhirnya agar terekam dalam benak Regia.
Lama sunyi, kemudian Regia tersenyum. “Dari mana kau dapatkan ungkapan seindah ini, sahabat ku?”
“Dari seorang penyir yang lahir di Lebanon… bagaimana menurutmu?”
“Sungguh indah sekali, ini membuat ku bersemangat. Dan ini juga telah membangkitkan minat ku,” ujar Regia dengan tatapan yang berbinar-binar.
“Apa ku bilang, kau tetap harus melanjutkan hidup mu, karena kau tidak hanya berbakat dalam dunia ballerina yang anggun dan mempesona, tapi kau juga berbakat menjadi pebisnis yang hebat karena pemikiranmu yang luar biasa…” ujar Dios berusaha berdiplomasi.
“Kau benar Dios. Aku akan mencobanya!”
“Untung saja kau ke sini, kalau tidak, wah… Apa jadinya dengan diri mu…??!” Dios mulai menggoda Regia lagi.
“Apa kau bilang? Enak saja ya…!” Regia tertawa lepas dan memukul Dios. Mereka berdua tertawa bersama. Akhirnya, ketika malam mulai larut, Dios mengantar Regia pulang ke rumah.

000---000

Dan begitulah, kini Regia bergelut dalam dunia bisnis, persis seperti impiannya terdahulu. Mamanya pun mendukungnya. Tak ada kebahagiaan selain dukungan dari Mama yang sangat dicintainya itu, serta dukungan dari sahabatnya, Dios.
Pada mulanya Regia berfikir untuk menjadi juru masak, tetapi ternyata itu kurang cocok untuknya. Sampai pada suatu hari, sewakut ia menjelajahi internet untuk mencari paket liburan, tiba-tiba ia mendapat gagasan untuk membuka agen perjalanan yang sedikit berbeda. Suatu sistem one-stop-shop yang bisa diakses malalui internet, menentukan sendiri paket liburan yang dikehendaki, namun mereka dapat meminta saran dari staff yang sudah berpengalaman.
Awalnya Regia hanya sebagai pegawai biasa, tapi satu hal yang sudah ia dapatkan dari pengalamannya sebagai penari balet adalah kesempatan melihat berbagai tempat di dunia. Dan kesuksesannya pun meroket, jauh melewati semua harapannya. Akhirnya ia menemukan sesuatu yang dulu sangat ia inginkan, pernah sangat ia nikmati. Dan sekaranglah saatnya ia untuk mulai mengembangkan diri.

--TAMAT--


Jumat, 13 Januari 2012

Wanita . . . . .

Hai, Brorther …
Wanita adalah hal paling berharga di dunia
lebih berharga daripada berlian, emas, dan atau apapun
Wanita adalah makhluk paling istimewa di dunia
jadi, kalian para laki-laki diwajibkan untuk menjaga wanita
karena wanita itu bukan untuk disakiti,
tapi untuk kita jaga dan kita sayangi
copa lihat ibu kalian,
betapa besar pengorbanan beliau demi anak-anaknya
betapa besar jasa-jasanya
dan kita tak akan pernah bisa menggantikan itu semua dengan apapun
jadi, aku mohon, Brother …
janganlah kalian sakiti wanita
apa lagi yang paling kalian cintai
aku buat tulisan ini tanpa mengurangi hormat kepada laki-laki
tapi aku hanya ingin memberi tahu
seperti apa seharusnya wanita diperlakukan
karena perasaan wanita lebih tajam dari kalian, Brother …
seperti apapun wanita di sakiti laki-laki ,,
dia tak akan mudah untuk berpindah ke lain hati
maka jika kalian sudah punya pasangan, Brother …
jagalah perasaannya baik-baik
jangan sampai kalian menyakitinya …
okha,okha …??





#Special to all of Brother . . .
(,")__((",)